Jumat, 09 Desember 2011




Siaut bin sialan..
Dalam 1 minggu 2 kali ketilang, hanya berbeda daerah,satu di Riau yang satu lagi di Jakarta. Kejadian kedua ini terjadi di daerah bundaran HI menuju monas, dengan sialnyta motor yg sedang melambat karena ada lampu merah di suruh berhenti ma pak pol.
Tanpa basi basa pak pol lansung berkata, kenapa tidak nyalakan lampu, teman saya yang mengendarapun dengan gugupnya lansung menyalakan lampu. Negosiasi penilanganpun berlansung. Seperti yang dialami para korban tilang lainnya, pak pol minta STNK dan SIM, saya yang sedang di gonceng dengan lugunya mengeluarkan STNK dan SIM yang saya miliki. Seperti yang sudah saya kira, pak pol pun lansung menanyakan SIM teman saya yang lagi mengendara. Alamatlah kapal akan tenggelan, teman saya ini tidak memiliki SIM. Dan 3 kali kata “mau ditilang gak?” diulang-ulang. Setelah kata ketiga dan kamipun ditilang. STNK di tahan dan bisa diambil di pengadilan negeri jakarta pusat.
Capek ya baca cerita, tipsnya belum nongol juga,heee. Sebenarnya sayapun bingung dan glabakan ketika berhadapan polisi penilang. Namun dari beberapa kali ketilang mungkin bisa berbagi kalimat yang bisa diucapkan ketika lagi berhadapan dengan situasi penilangan.
Pertama, ketika ditilang pasti ditanya kesalahan, jawab saja tidak tahu, ketika dikasih tau kesalahan, kita harus mengeluarkan alasan atau jawaban yang sepanjang mungkin, sehingga jika ada sedikit kebohongan dalam ucapan anda, akan sulit ditemukan karna pertimbangan kebenaran argumen cenderung di nilai secara keseluruhan.


Kedua, ketika pak pol mengeluarkan kata “ditilang saja ya?”. Inilah saatnya kita menentukan pilihan, mau jujur apa cepat. Kalau mau jujur kita ikuti saja proses penilangan yang tidak begitu ribet namun agak menunggu lama sebelum disidang, kalau mau cepat lansunglah berdehem, maaf pak, bagaimana kalau damai saja, maaf pak, saya bukan orang sini, jadi tidak bisa mengikuti persidangan, atau keluarkan argumen-argumen lainnya. Namun jangan sampai kata-kata “ditilang saja ya?” terulang tiga kali. Itu kalau polisi yang agak sibuk, kalau polisi yang mau duit saja dia tidak akan terlalu menawarkan sidang, walaupun menawarkan itu hanya gertakan saja, yang biasanya ditambahkan dengan ungkapan kalau sidang itu sulit.
Ketiga, kalau polisi membawa buku undan-undang dan disuruh baca, tidak usah pedulikan, karena itu akan memberatkan kita saja, alihkanlah pembicaraan kearah yang lebih penting dan lebih cepat memberikan keuntungan bagi kita. Toh itu urusan hakim atau jaksa bukan polisi.
Keempat, negosiasi denda. Kebanyakan polisi hanya berkepentingan denda bukan kasus yang terjadi. Kalau kita mau cepat, segeralah kita tentukan berapa yang bisa kita bayar, mulailah dari 20.000. dan batasi sampai 50.000 saja. Biasanya polisi yang aneh bin ajaib menanyakan berapa yang bisa anda bayar. Bilang saja hanya bisa bayar 20.000, dan minta bantu polisi untuk pengurusan kepersidangan. Biasanya ia bilang tidak bisa bantu kalau hanya 20.000. kita bisa tambah lagi menjadi 50.000. kalau dia masih berdalih dan menawarkan sidang, kita berpura-pura mikir dulu, lama-lamain ja mikirnya, dan pasnaglah muka ragu. Saya yakin pol yang hanya mentingin duit akan gelisah, ia takut kalau kita mau ikut sidang, dan ia tidak akan dapat apa-apa.
Kala ditanya lagi, bertahanlah disitu, dan iapun akan segera mengatakan yasudahlah.
Selamatlah kita, heee. Ingat, tidak ada polisi yang mau menunggu untuk waktu yang lama dan berujung sia-sia.

Selasa, 29 November 2011


Apessss...Nasib sial melanda ketika hari ke dua pelaksanaan MTQ Provinsi Riau yang diadakan di Kabupaten Indragiri Hulu, Rengat tepatnya.
Hari itu pelaksanaan lomba kaligrafi cabang dekorasi, dan hari sebelumnya saya telah berlomba dicabang kaligrafi hiasan mushaf.
Dengan menggunakan Pesva tahun 70-an saya melaju dari penginapan kafilah INHU yang ada di DTIE rengat menuju gedung Kesenian tempat pelaksanaan Lomba Kaligrafi cabang Dekorasi. Tanpa mengunakan helm dengan santainya saya menikmati genjotan pesva ditengah sejuknya udara kota Rengat. Belumlah jauh mengendara, di perempatan jalan kedua dari penginapan telah berdiri 2 polisi gagah, setelah melihat dari kejauhan, sayapun berbelok ke jalan lain. Selamatlah sudah hee... jalanan lurus didepan rumah dinas Bupati dan kantor Polres rengatpun saya lalui dengan santai sambil mengobrol kecil dengan teman yang saya bonceng.
Di sinilah keosnya, pertigaan yang hanya 2 gedung sebelum tempat lomba telah menunggu seorang polisi dengan gantengnya.
Introgasi penilanganpun dimulai, tidak perlu dijelaskan lagi, bagi yang berpengalaman pernah ditilang pasti terngiang-ngiang akan kata-kata basi penilangan. Ujung-ujungnya SIM saya ditahan. Dan harus kekantor polisi atau kepengadilan baru bisa diambil.
Setelah melakukan penilangan itu, polisi ganteng inipun pergi dari simpang itu, mungkin karena telah mendapatkan hasil.hee
Dan perjalananpun dilanjutkan.

Ada kata-kata polisi ini yang janggal, dengan lanntangnya berkali –kali polisi ini berkata kalau saya ini adalah pengendara yang terkena kesialan. Katanya saya ini adalah pengendara ketiga yang tidak menggunakan helm selama si polisi berdiri dijalan itu. “Tadinya saya sudah toleransi dengan dua pengendara didepan kamu, dan kamu adalah pengendara ketiga yang terkena kesialan”, speak thos police. Apakah memang begitu hukum itu ya, toleransi dengan pengendara lain dan tidak toleransi dengan pengendara yang ketiga???aneh..
Ada juga hal aneh lainnya di kota Rengat yang jalanannya sepi ini. Razia dijalan itu hanya dilaksanakan pada jam 08.00-09.00. Mantap sekali bukan. Razia hanya formalitas, setelah rentang jam itu, tidak menggunakan helmpun tidak jadi masalah lagi. Buktinya, dari saya tertilang sampai pukul 12 malam saya mengendara tanpa helm, tidak ada masalah sedikitpun. Apakah helm itu hanya diperlukan jam tertentu saja?atau semua ini hanya formalitas.
Kalau saja pengawasan terhadap hukum tentang lalu lintas ini dibuat ketat dan adanya pengawasan, mungkin tidak akan ada yang berani mengendara sepeda motor tanpa helm.
Bagi saya, ini adalah sebuah kesalahan dan harus saya perbaiki, dan bagi mereka, tolong dong jangan Cuma formalitas. Terima kasih

D
wa ga pat

G              D
do dododododo, re rerererere
Em             C
mi mimimimimi, fa fafafafafa

[chorus]
G                        
(do) doakan ku harus pergi
 D
(re) relakan aku di sini
Em
(mi) misalnya aku kan pulang
C
(fa) fastikan kau tetap menunggu

G
(sol) soal cinta luar biasa
D
(la) lama-lama bisa gila
Em
(si) siapa yang tahu pasti
C
(do) doakan aku di sini

[int] G D

G                   D
adududuh duh aku percaya
Em                   C
kali ini kau pasti bisa yeah
       G              D
kuku kutanya ada yang salah
Em                C  D
jelas ini luar biasa

C
hal yang baik tidak mudah
Bm
tak seperti kau bicara
Am           D         G
mereka mengerti ini terlalu jadi masalah
C
ketika kau mulai bisa
Bm
terbiasa untuk dapat
  Am                D
menikmati hari-hari tanpaku di sini



[chorus]
G                        
(do) doakan ku harus pergi
 D
(re) relakan aku di sini
Em
(mi) misalnya aku kan pulang
C
(fa) fastikan kau tetap menunggu

G
(sol) soal cinta luar biasa
D
(la) lama-lama bisa gila
Em
(si) siapa yang tahu pasti
C           D
(do) doakan aku di sini

[int] G D Em C

C
hal yang baik tidak mudah
Bm
tak seperti kau bicara
Am           D         G
mereka mengerti ini terlalu jadi masalah
C
ketika kau mulai bisa
Bm
terbiasa untuk dapat
  Am                D
menikmati hari-hari tanpaku di sini


[chorus]
G                        
(do) doakan ku harus pergi
 D
(re) relakan aku di sini
Em
(mi) misalnya aku kan pulang
C
(fa) fastikan kau tetap menunggu

G
(sol) soal cinta luar biasa
D
(la) lama-lama bisa gila
Em
(si) siapa yang tahu pasti
C           D
(do) doakan aku di sini

[int] C Bm Am G
      C Bm Am D

everybody sings it!


[chorus]
G                        
(do) doakan ku harus pergi
 D
(re) relakan aku di sini
Em
(mi) misalnya aku kan pulang
C
(fa) fastikan kau tetap menunggu

G
(sol) soal cinta luar biasa
D
(la) lama-lama bisa gila
Em
(si) siapa yang tahu pasti
C           D
(do) doakan aku di sini

G
doakan ku harus pergi
D
relakan aku di sini
Em
misalnya aku kan pulang
C
fafa fastikan kau yang menunggu
G
soal cinta luar biasa
D
lama-lama bisa gila
Em
siapa yang tahu pasti
C      D         G
doakan aku di sini